Desa Tunggara (sering pula diucapkan Tunggoro oleh masyarakat lokal) terletak di ujung timur Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara. Letaknya yang berada di perlintasan jalur utama Banjarnegara–Wonosobo menjadikan desa ini memiliki peranan geografis dan sejarah yang strategis.
Posisi Strategis dan Perbatasan Wilayah
Sejak era lampau, wilayah Tunggara memegang peranan penting sebagai area transit penghubung.
-
Batas Karesidenan: Desa ini secara historis berada di garis perbatasan antara wilayah Karesidenan Banyumas dan Karesidenan Kedu.
-
Aksesibilitas: Menempati sekitar 5,11% dari total luas Kecamatan Sigaluh, Tunggara berjarak sekitar 8 km dari pusat kecamatan dan 17 km dari alun-alun Banjarnegara.
-
Jalur Ekonomi: Berada di pinggir jalan raya antarkabupaten membuat lalu lintas perdagangan serta mobilitas masyarakat terjalin erat sejak masa kolonial hingga modern.
Tradisi Kebudayaan dan Nilai Sejarah
Kehidupan bermasyarakat di Desa Tunggara kaya akan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
-
Merti Desa / Ruwat Bumi: Salah satu tradisi sejarah yang terus dilestarikan adalah Ruwat Bumi yang digelar berkala (seperti tradisi tiga tahunan). Warga mengarak belasan gunungan hasil bumi mengelilingi desa sebagai ungkapan syukur atas kesuburan tanah dan panen yang melimpah.
-
Gotong Royong & Agraris: Sebagai wilayah agraris dengan lanskap perbukitan dan aliran sungai di sekitarnya, dinamika sosial Tunggara dibentuk oleh budaya bertani, perkebunan, dan interaksi erat antarwarga.
Profil Singkat Desa
| Parameter | Keterangan |
| Lokasi Administrasi | Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah |
| Batas Wilayah Utama | Berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo |
| Karakteristik Wilayah | Dataran tinggi/perbukitan agraris, kawasan jalur perlintasan utama |
| Tradisi Unggulan | Ruwat Bumi / Merti Desa, Arak-arakan Gunungan Hasil Bumi |
Seiring berjalannya waktu, Desa Tunggara terus berkembang dari pemukiman perbatasan menjadi desa yang mandiri dengan mobilitas ekonomi yang kuat tanpa meninggalkan akar kebudayaan lokalnya.